Teknologi Bikin Sulit Konsentrasi?

  • date March 19 2020

MASIH ingat nggak kapan terakhir kali kita berkonsentrasi penuh mengerjakan satu tugas—tanpa mengecek email, membuka akun jejaring sosial sama sekali? Sudah tidak ingat? Selain membuat kecanduan, kerajingan teknologi seperti ini, menurut para ahli memiliki efek terhadap daya ingat, kemampuan cerna data serta tingkat kelelahan—yang ujung-ujungnya memengaruhi kinerja kita.

 

(Lagi-lagi) Revisi
Dibanding era sebelumnya, kita beruntung memiliki banyak referensi yang kita bisa dapatkan di berbagai sumber di internet. Tugas apapun bisa kita kerjakan dengan cepat—sayangnya tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan pula. dr Garry Small, penulis buku iBrain menjelaskan, “Kita memang bisa mengerjakab segala sesuatunya dengan cepat, akan tetapi kita juga jadi lebih lambat dalam mencerna informasi tersebut, hasilnya kita seringkali harus merevisi apa yang sudah kita kerjakan.” Peneliti dari University of California juga menemukan bahwa bekerja multi-tasking di tengan arus informasi yang deras, bisa berdampak pada daya ingat seseorang. “Bereaksi terhadap hal-hal (informasi) baru terus-menerus bisa menyebabkan otak kita stres dan membuat sel-sel memori kita mengecil. dr Small menyarankan, “Kurangi penggunaan reminder untuk mengoptimalisasi daya kerja otak. Matikan juga notifikasi email dan telepon saat kita sedang benar-benar butuh bekerja atau mencerna informasi.”

 

Sulit Beristirahat
Setelah seharian lelah bekerja, malamnya ternyata kita terus terjaga—padahal keesokan harinya kita harus berhadapan lagi dengan tumpukan deadline. “Sulit memejamkan mata dan pikiran yang tidak terkendali sesaat menjelang tidur merupakan gejala umum dari penggunaan teknologi yang berlebihan di sore hari,” jelas Nerina Ramlahkan, penulis buku Tired But Wired. Berdasarkan studi yang dilakukan di Inggris, manusia modern saat ini menghabiskan sekurangnya waktu 60-100 jam berada depan komputer, tablet atau telepon. “Otak kita terus memproses informasi, sehingga secara mental kita sulit untuk beristirahat. Tubuh kita pun tidak siap untuk masuk dalam fase tidur nyenyak.” Bisa ditebak, kita akan jadi ‘zombie’ keesokan harinya di kantor. Nerina menyarankan agar kita melakukan ‘detoks’ teknologi sekurangnya 90 menit sebelum kita tidur. Keluar dari akun email, matikan notifikasi semua jejaring sosial—dan buat tubuh kembali rileks.

 

The Social Media Effect
Berkat media sosial, perjalanan ke kantor yang panjang jadi menyenangkan, membuat pekerjaan menunggu tidak lagi membosankan, dan lain sebagainya. Akan tetapi lain ceritanya bila gara-gara media sosial, produktivitas kerja kita menurun. Coba hitung, berapa menit yang kita habiskan untuk membaca linimasa, menulis status, membalas, mengomentari isi posting dan lain sebagainya. Waktu yang bila kita dedikasikan pada pekerjaan, tidak membuat kita harus (lagi-lagi) lembur, kan? “Kecanduan media sosial disebabkan karena dopamine—bagian otak yang bertanggung jawab terhadap segala bentuk kecanduan—termasuk obat-obatan. Setiap balasan atau respon terhadap isi suatu postingan, membuat kita selalu ingin menuliskan sesuatu lagi,” jelas dr Small. Solusinya, atur waktu kapan kita bisa mengecek media sosial, misalnya dalam perjalanan pergi-pulang atau saat istirahat makan siang.  (Kanakata Creative)

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

jessica@kanakata.co

phone

085921153583

×