Strategi Membangun Tim Tangguh

  • date October 19 2021

Tim yang berfungsi dengan baik merupakan elemen kunci yang mampu membantu perusahaan untuk bertahan menghadapi segala tantangan – termasuk di masa pandemi. Ketika kita dan anggota tim tidak bisa setiap hari bertemu secara fisik dan dipaksa untuk bekerja secara terpisah, uniknya, secara tidak langsung kita malah saling tergantung dibandingkan saat bekerja di kantor. Dibutuhkan resiliensi dalam setiap anggota tim agar mampu bertahan dan tetap maju di tengah kondisi yang tidak menentu ini.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana sih membentuk anggota tim yang tangguh itu? Setidaknya ada empat faktor yang menjadi penentu tim kita bisa tahan banting atau tidak.

 

Pertama, keterbukaan. Apakah anggota tim kita mampu bersikap terbuka, saling jujur, dan bisa menerima masukan dan kritik satu sama lain? Tim yang resilien itu bisa dengan terbuka mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahan mereka, mengidentifikasi tantangan, serta mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Keberanian untuk mengungkapkan masalah dengan jujur, dan didukung oleh pimpinan atau anggota tim yang lain, memudahkan tim untuk saling terbuka mengungkapkan pendapat mereka dan berdiskusi demi mendapatkan solusi yang terbaik – bukan sebatas prasangka atau rasa suka tidak suka.

 

Kedua, berdaya.  Saat menghadapi tantangan atau masalah, bisakah tim dengan kompak kreatif mencari solusi yang efektif? Mereka yang tergolong tangguh, adalah mereka yang tidak lari atau putus asa saat dihadang rintangan, melainkan membuka tangan lebar-lebar terhadap tantangan yang datang. Dengan energi yang mereka miliki, mereka akan fokus untuk mencari jalan keluar, bukannya menyalahkan kondisi yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

 

Ketiga, peduli dan empati. Ketika salah satu anggota tim gagal atau berhasil, bagaimana reaksi anggota yang lain? Peduli, turut senang, cuek, atau malah iri dan bersikap memusuhi? Tim bisa masuk menjadi tim yang resilien, saat seluruh anggotanya dengan tulus peduli dan perhatian satu sama lain. Resilien sering diungkapkan dalam bentuk komitmen untuk maju bersama, bukan mencari keuntungan atau kesuksesan pribadi.

 

Keempat, rendah hati. Apakah anggota tim bisa dengan tanpa sungkan meminta bantuan dan dibantu oleh yang lain? Tim yang tahan banting bukan berarti selalu bisa mengatasi semua sendiri dan tidak butuh orang lain lho. Begitu anggota tim bisa mengakui bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan satu masalah dan meminta bantuan, menandakan bahwa mereka terbuka untuk bekerja sama dengan orang lain dan mau mengakui dan mengandalkan anggota tim lain untuk menghadapi tantangan yang ada dan menemukan solusinya. Kembali lagi, ini bukan persoalan kemenangan pribadi semata, melainkan untuk kemajuan bersama.

Secara garis besar, untuk membentuk karakter resilien, dibutuhkan kesadaran dan empati yang mungkin tidak secara natural tumbuh di setiap anggota tim. Pimpinan hendaknya bisa memetakan serta mengidentifikasi kelemahan mereka dan memberikan strategi yang tepat sehingga mereka mampu mengatasi kekurangan mereka dengan lebih percaya diri. (Kanakata Creative)

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×