Pemimpin: Empati Tidak Cukup

  • date March 15 2022

Selama hampir dua tahun, para pemimpin telah menjalankan berbagai peran,  mulai dari memimpin bisnis sampai membantu tim pulih dari kesedihan,rasa cemas dan kehilangan akibat pandemi. Singkatnya, mereka telah memikul beban emosional yang besar.

 

Tentu saja, empati semacam ini penting untuk kepemimpinan yang baik. Tapi terlalu banyak bisa menjadi masalah, membebani. Alih-alih memikul beban empati itu, pemimpin dapat belajar untuk menunjukkan sikap welas asih.

 

Empati dan Welas Kasih: Apa Bedanya?

Mari kita mulai dengan beberapa definisi. Kata-kata "empati" dan "kasih sayang," serta "simpati," kadang-kadang digunakan secara bergantian. Mereka semua mewakili sifat positif dan altruistik, tetapi mereka tidak merujuk pada pengalaman yang sama persis. Sangat membantu untuk mempertimbangkan dua kualitas yang berbeda dari welas asih: memahami apa yang dirasakan orang lain, dan kesediaan untuk bertindak meringankan penderitaan orang lain.

 

Ketika merasa kasihan (pitty), kita memiliki sedikit kemauan untuk bertindak dan sedikit pemahaman tentang pengalaman orang lain. Kita hanya merasa kasihan pada mereka. That’s it. Tahap selanjutnya adalah simpati, di dalamnya, ada kesediaan kita untuk membantu dan memahami orang lain. Berikutnya adalah empati. Dengan empati, kita memiliki pemahaman mendalam tentang pengalaman orang lain. Bukan hanya merasakan, kita juga mengambil emosi orang lain untuk kita. Meskipun hal tersebut tampak baik, hal itu tidak selalu membantu orang lain.

 

Terakhir dan terpenting adalah welas asih.  Ketika kita memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang dialami orang lain dan kemauan untuk bertindak. Pemahaman kita lebih besar daripada empati karena kita menarik kesadaran emosional kita serta pemahaman rasional. Welas asih terjadi ketika kita mengambil langkah menjauh dari empati dan bertanya pada diri sendiri apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung mereka yang menderita.

 

Mengapa Welas Asih Penting?

Paul Polman, mantan CEO Unilever mengatakan, “Jika saya memimpin dengan empati, saya tidak akan pernah bisa membuat satu keputusan pun. Mengapa? Karena dengan empati, saya mencerminkan emosi orang lain, yang membuat tidak mungkin untuk mempertimbangkan kebaikan yang lebih besar.”

 

Empati sering membantu kita melakukan apa yang benar, tetapi terkadang juga memotivasi kita untuk melakukan apa yang salah. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Bloom, profesor ilmu kognitif dan psikologi di Universitas Yale menemukan bahwa empati dapat mengubah penilaian kita. Sebagai pemimpin, empati dapat mengaburkan penilaian kita, mendorong bias, dan membuat kita kurang efektif dalam membuat keputusan yang bijaksana.

 

Menghindari Perangkap Empati

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh pemimpin agar tidak terjebak empati semata? Harus diingat bahwa menjauh dari empati tidak membuat Anda menjadi kurang manusiawi atau kurang baik hati. Sebaliknya, itu membuat Anda lebih mampu mendukung karyawan Anda selama melalui masa-masa sulit. Berikut adalah empat strategi utama untuk menggunakan empati sebagai katalis untuk memimpin dengan welas asih.

 

1. Ambil langkah mental dan emosional

Untuk menghindari terjebak dalam empati k, cobalah untuk mengambil langkah mental dan emosional. Keluarlah dari ruang emosional untuk mendapatkan perspektif yang lebih jelas tentang situasi dan orang tersebut. Hanya dengan perspektif ini Anda dapat membantu. Dengan menciptakan jarak emosional ini, Anda tidak menjauh dari orang tersebut. Sebaliknya, Anda menjauh dari masalah sehingga Anda dapat membantu menyelesaikannya.

 

2. Tanyakan apa yang mereka butuhkan

Ketika Anda mengajukan pertanyaan sederhana "Apa yang Anda butuhkan?" Anda telah memulai solusi untuk masalah tersebut dengan memberi orang tersebut kesempatan untuk merenungkan apa yang mungkin dibutuhkan. Ini akan memberi tahu Anda dengan lebih baik tentang bagaimana Anda dapat membantu. Dan bagi orang yang menderita, langkah pertama untuk dibantu adalah merasa didengar dan dilihat.

 

3. Kekuatan tindakan tanpa “tindakan”

Pemimpin umumnya pandai menyelesaikan sesuatu. Tetapi ketika orang menghadapi tantangan, penting untuk diingat bahwa dalam banyak kasus orang tidak membutuhkan solusi Anda; mereka membutuhkan telinga dan kehadiran Anda yang peduli. Banyak masalah hanya perlu didengar dan diakui. Dengan cara tidak melakukan apa-apa, sering kali bisa menjadi cara yang paling ampuh untuk membantu.

 

4. Latih mereka agar dapat menemukan solusi sendiri

Kepemimpinan bukan tentang memecahkan masalah bagi orang-orang, melainkan tentang menumbuhkan dan mengembangkan orang, sehingga mereka diberdayakan untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Hindari mengambil “kesempatan” mereka belajar dengan langsung memecahkan masalah mereka. Sebaliknya, latih dan bimbing mereka. Tunjukkan pada mereka jalan untuk menemukan jawaban mereka sendiri. (Kanakata Creative)

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×