Monkey See, Monkey Do

  • date June 01 2021

Beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan yang mengeluhkan perilaku karyawannya yang sering datang terlambat. “Kami sudah menerapkan jam kerja yang jelas, dengan harapan mereka bisa mentaatinya. Belakangan semakin banyak yang mengabaikan aturan tersebut, dan ini tentu merepotkan!” Ketika saya tanyakan kembali jam berapa biasanya dia tiba di kantor, dengan enteng menjawab, “Resminya aturan di kantor sih jam 8.30, tetapi saya biasa datang jam 9 lewatlah!” katanya enteng.

Saya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Keluhan semacam ini bukan pertama kalinya saya dengar. Saya yakin, beliau sebagai petinggi perusahaan, pasti paham betul aturan perusahaan yang ada. Mulai dari penetapan jam kerja, pengaturan cuti, izin sakit, kompensasi karyawan jika melanggar aturan, menjaga kerahasiaan perusahaan, hingga menjaga relasi antarkaryawan. Sayangnya, sepertinya beliau sendiri lupa, bahwa selain paham (dan mungkin hafal) aturan-aturan tersebut, tentu saja harus konsekuen mematuhinya!

Saya mengawali jawaban kepada bapak tersebut dengan permintaan maaf.  “Maaf bila harapan Bapak tampaknya akan sangat sulit terwujud.”  Matanya membesar. Tampaknya dia tidak siap dengan jawaban saya tadi. Saya pun melanjutkan, jika ia ingin agar karyawannya tidak datang terlambat, maka ia harus bisa datang tepat waktu, sesuai jam kerja yang telah ditentukan. Hambatan apa pun yang menyebabkan ia sulit datang pukul 8.30, harus ia atasi. Mudahnya, karyawan akan mencontoh perilaku atasannya.

Dalam psikologi, dikenal sejumlah teori belajar. Teori klasik yang disampaikan oleh Albert Bandura (1971) adalah belajar melalui observasi (observational learning) atau modelling. Sedangkan LefranÇois dalam Coon & Mitterer (2012) menyebutkan bahwa melihat dan meniru perilaku orang lain atau mencatat akibat dari perilaku orang lain dapat dikategorikan sebagai belajar melalui observasi.

Menurut Coon & Mitterer (2012) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses belajar melalui observasi dapat terjadi, yaitu:

  1. Pembelajar harus menaruh perhatian pada model (orang yang ditiru) dan mengingat apa yang sudah dilakukan orang tersebut.
  2. Pembelajar harus mampu mereproduksi perilaku yang ditiru.
  3. Bila model berhasil atau dihargai atas perilakunya, maka pembelajar akan lebih mungkin meniru perilaku tersebut.

Secara umum, model yang menarik, terpercaya, mampu, dikagumi, kuat, atau dianggap mempunyai status yang lebih tinggi juga cenderung akan ditiru (Brewer & Wann dalam Coon & Mitterer, 2012).  

Salah satu bukti keberhasilan teori belajar melalui observasi adalah menjamurnya tutorial melalui Youtube.  Ada berbagai informasi yang dapat ditemukan mengenai cara mengerjakan sesuatu mulai dari memasak, hingga mengganti ban sepeda.  Pembuat konten sebagai model biasanya akan menjelaskan alat dan bahan yang diperlukan agar dapat melaksanakan aktivitas, dan kemudian memeragakannya.  Orang senang dengan metode ini, karena dengan demikian ia bisa melihat bagaimana sesuatu dilakukan, sehingga lebih mudah baginya untuk mencontoh.  Tidak perlu membaca buku manual.  Cukup melihat, mencontoh, dan sesegera mungkin bisa langsung diperagakan. Cara belajar yang menyenangkan, bukan? Cara ini juga memungkinkan orang untuk belajar tanpa perlu mengalami konsekuensi negatif secara langsung  (Cacioppo & Freberg, 2019).

Hanya saja dalam Youtube, tetap ada suara dari pembuat konten. Apakah itu berarti suara mempunyai peran penting atau bahkan lebih penting dalam proses tutorial? Jangan lupa, banyak pula tutorial yang hanya menggunakan gambar bergerak tanpa penjelasan secara lisan.  Bagaimana pun belajar melakukan sesuatu akan terasa lebih mudah bila ada contoh nyata mengenai bagaimana aktivitas tersebut dilakukan, daripada hanya sekadar mendengarkan.

Bila kembali pada persoalan bagaimana agar karyawan bisa datang tepat waktu, menurut Anda, mungkinkah hal ini terwujud tanpa atasan yang memberi contoh atas perilaku tersebut? Ya, mungkin saja, tetapi potensi keberhasilannya kecil. Karyawan akan melihat ketidaksesuaian antara perintah yang diberikan (datang tepat waktu), dengan perilaku terlambat yang dilakukan oleh sang atasan. Karyawan kemungkinan akan berpikir, ”Mengapa saya harus datang tepat waktu, atasan saya saja selalu terlambat lebih dari setengah jam!”

Bagi karyawan, figur atasan adalah figur yang kuat, dikagumi dan terpercaya, sehingga apa yang dilakukan atasan, cenderung ditiru oleh karyawan – dan ini akan menjadi budaya kantor secara keseluruhan. Perilaku tersebut akan lebih mudah terbentuk saat karyawan melihat atasannya melakukan hal yang sama, bahkan saat atasan tidak memberikan perintah secara eksplisit.  Mengapa demikian? Karena melakukan apa yang dilihat akan lebih mudah daripada melakukan apa yang dikatakan. Monkey see, monkey do.

 

(Kontributor: Agnes Dewanti Purnomowardani, M.Si., Psikolog (Nessi Purnomo), psikolog klinis, praktik di RS Panti Rapih Yogyakarta)

Referensi

Cacioppo, J. T., Freberg, L. A. 2019. Discovering Psychology: The Science of Mind. 3rd edition. USA: Cengage Learning, Inc

Coon, D., Mitterer, J.O. 2012. Psychology: Modules for Active Learning. 12th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×