Kalahkan ‘Malas’ dengan Aturan 5 Detik

  • date May 24 2022

Sebagian besar dari kita cenderung menunda-nunda sesekali. Terutama jika menyangkut hal-hal yang membutuhkan banyak energi fisik, emosional, dan intelektual.

 

Penundaan dapat menyebabkan masalah kecil, seperti harus membayar biaya keterlambatan atau bahkan memundurkan jadwal terbit buku yang akan jadi mahakarya Anda.  Sesekali merasa malas atau tidak termotivasi, bisa dimaklumi, namun jika dibiarkan, penundaan dapat menyebabkan kerusakan serius pada kesehatan, karier, hubungan, dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan.

 

Metode ‘5 Second Rule’ atau Aturan 5 Detik ini dicetuskan oleh penulis dan pembicara, Mel Robbins, yang sempat mengalami masa yang sangat sulit. Dia dan suaminya terperosok dalam masalah keuangan yang tentu saja mengganggu hubungan mereka. Setiap malam dia akan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa keesokan harinya dia akan bangun pagi-pagi dan mulai menata hidupnya kembali. Meskipun demikian, setiap pagi hal yang sama akan terjadi. Alarm berdering, maka ia akan segera mematikannya, dan kembali tidur. Alhasil, ia bangun terlambat, merasa gagal, dan hanya menyelesaikan sedikit sepanjang hari.

 

Kemudian, suatu hari, Ia mendengar hitungan mundur peluncuran roket di TV. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ketika alarm berbunyi keesokan paginya, dia akan menghitung mundur dari 5 ke 1 dan kemudian "meluncurkan" dirinya ke hari yang baru.

 

Keesokan paginya ia mencoba ide barunya dan… berhasil! Bukan hanya bisa bangun pagi, ia mulai menerapkan ide menghitung mundur dari 5 ke 1 dan kemudian bertindak setiap saat sepanjang hari ketika ada tugas penting yang harus diselesaikan tetapi ia merasa ingin menundanya.

 

Menurut Robbins, jika kita memiliki naluri untuk bertindak pada suatu tujuan, maka kita harus bergerak secara fisik dalam 5 detik atau otak kita akan menghalanginya. Mulailah menghitung mundur ke diri sendiri dari 5 hingga 1.  Segera setelah kita mencapai hitungan "1", dorong diri untuk bergerak.  Saat kita menghitung mundur dari 5 hingga 1, kita akan mengalihkan otak dari mencari alasan mengapa kita harus melakukan sesuatu yang lain (balas email, cek medsos, pesan makanan, dan lain sebagainya) dan benar-benar bertindak.  Aturan 5 detik adalah cara kita mengakali otak kita. Ini adalah bentuk metakognisi yang memungkinkan kita mengelabui otak sehingga tidak dapat menyabot upaya kita.

 

Mengapa Aturan 5 Detik Berhasil

Robbins menjelaskan bahwa ketika kita memiliki insting untuk bekerja pada suatu tujuan, dalam 5 detik beberapa hal berikut dapat terjadi: kita mulai merasa ragu-ragu, takut, mulai melakukan analisis secara berlebihan (overthinking) yag semuanya dapat mencegah kita bertindak. Alasan munculnya keraguan, ketakutan, dan analisis berlebihan adalah karena otak kita dirancang untuk menghentikan kita dari perubahan, sesuatu yang tidak pasti, menakutkan, dan tidak nyaman.

 

Singkatnya,

  1. Aturan 5 detik menarik kita keluar dari ‘pertempuran di kepala kita dan membuat kita mengambil tindakan. Semakin banyak kita bertindak, kita mengubah tindakan menjadi kebiasaan. Misalnya, saat hendak menulis draf pertama, ketika kita mengalahkan rasa ragu dan segera mengetik, kita akan menjadikan kebiasaan duduk di depan laptop sebagai  pengantar untuk kita segera bekerja.
  2. Aturan 5 detik memungkinkan kita membuat kemajuan setiap kali kita mempraktikkannya. Setiap langkah kecil ke depan akan meningkatkan mood dan meningkatkan motivasi intrinsik kita. Kedua hal ini, pada gilirannya, mendorong kita untuk membuat lebih banyak kemajuan.
  3. Dalam buku Descartes' Error: Emotion, Reason, and The Human Brain, ahli saraf terkenal di dunia Antonio Damasio dalam penelitiannya menunjukkan bahwa 95% dari keputusan kita dibuat berdasarkan perasaan, bukan fakta. Karena itu ia menyebut kita "mesin yang merasa yang berpikir, bukan mesin berpikir yang merasa". Inilah sebabnya mengapa kita memiliki sederet alasan bagus mengapa kita harus bertindak, tetapi kemudian kita gagal bertindak karena kita tidak menyukainya. Untuk mengatasi masalah ini, Robbins menyarankan agar kita menggunakan strategi yang diterapkan oleh para atlet profesional. Mereka memperlakukan perasaan sebagai sugesti sederhana. Jika suatu perasaan hanyalah sebuah sugesti, dengan aturan 5 detik, perasaan itu dapat ditolak. Selain itu, ketika bertindak, kita akan menggunakan perilaku untuk memengaruhi perasaan kita, alih-alih berharap perasaan yang akan mendorong kita untuk bertindak.

 

Penundaan bukan tentang kemalasan atau memiliki etos kerja yang buruk. Penundaan, pada intinya, adalah tentang pikiran dan emosi negatif—yang dapat kita atasi salah satunya dengan aturan 5 detik ini. Siap mencoba? (Kanakata Creative)

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×