CEO TALKS: Sadar Diri

  • date July 27 2021

Beberapa waktu lalu, saya tergabung dalam komunitas relawan di bidang kesehatan. Bergabung dengan rekan-rekan berbeda usia, latar belakang, pengalaman, menjadi pengalaman baru yang sangat menarik sekaligus menyegarkan. Menyenangkan rasanya ketika saya mendapat kesempatan berinteraksi secara langsung dalam komunitas yang memiliki semangat yang sama, berkarya untuk sesama di masa pandemi.

 

Namanya juga bekerja kelompok dalam kurun waktu beberapa bulan, masa manis alias honeymoon, berlalu juga. Mulai terlihat rekan mana yang bertanggung jawab dan profesional, mana yang penting asal selesai, atau malah mengutamakan ngobrol dan foto-foto dibandingkan untuk bekerja. Perlahan-lahan, muncul keluhan di antara relawan atas perilaku atau kualitas kerja A, B, dan sebagainya.Salah satu relawan ditegur cukup keras karena tidak bisa mengikuti kecepatan kerja relawan lainnya di salah satu divisi. Tidak terima dengan teguran tersebut, relawan ini, sebut saja A, memutuskan untuk mundur saat itu juga. Keluar. Tidak mau bergabung lagi. Salah satu koordinator melakukan pendekatan agar A tidak walk out begitu saja, mengingat masih ada tugas lain yang bisa dia kerjakan. Berhasil, A tetap tinggal hari itu, hingga jam ‘kerja’ kami selesai.

 

Saya pikir masalah ini selesai, ternyata tidak. Pengatur jadwal meniadakan A untuk bertugas selama seminggu ke depan. Tidak terima atas keputusan tersebut, A lantas menghubungi secara pribadi para petinggi komunitas, termasuk koordinator yang ia nilai memberikan rekomendasi sehingga namanya tidak ada dalam daftar petugas. Bergulir kembali cerita-cerita, bahwa sebenarnya A di beberapa divisi juga kurang baik kerjanya; sehingga ia sering dipindahkan dari pos satu ke yang lain.

 

Salah satu koordinator mengirimkan isi WA A yang ditujukan kepadanya, pada saya. Intinya, A keberatan mengapa dia dinilai tidak kompeten di divisi tersebut dan mengapa dibebastugaskan. Saya lantas ingat, bukankah A sendiri yang minta untuk keluar?  Kirain, dia malah lega karena sudah tidak bertugas pasca ditegur keras beberapa waktu lalu.

 

Kondisi ini terus terang langsung mengingatkan pada diri sendiri: berpikir sebelum bertindak dan berani untuk mengevaluasi diri.  Ketika dikritik keras, bahaya hukumnya jika langsung mengambil keputusan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Memberi waktu pada diri sendiri untuk mencerna baik kritik, masukan, teguran, akan membantu kita untuk memilah tindakan apa yang akan kita lakukan berikutnya dengan sadar, sehingga kita siap menanggung konsekuensinya. Jika tidak, seperti contoh A tadi, saya yakin, sebenarnya dia masih mau berkarya, tetapi karena amarah sudah menguasainya, dia langsung mengatakan ingin berhenti.

 

Kedua, soal evaluasi diri. Ini penting sekali untuk mengukur kemampuan, kelemahan, dan kekuatan kita. Selama kita berpikir, ‘Saya baik-baik saja, masalahnya di orang lain,’ itu pertanda kepekaan kita membaca diri sendiri berkurang. Kita tidak lagi waspada apa yang menjadi kekurangan kita sehingga malas untuk meng-up grade skill kita. Dan yang terburuknya adalah, kita jadi melepaskan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita ke orang lain.

 

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative

 

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

jessica@kanakata.co

phone

085921153583

×