CEO TALKS: Passion Saja Tidak Cukup

  • date February 22 2022

Dari sekian banyak definisi dari kata passion yang ada di kamus Merriam Webster, salah satu yang menarik saya adalah definisi ini: the emotions as distinguished from reason - emosi yang berbeda dengan akal. Saya membayangkan emosi yang dimaksud di sini cenderung tidak stabil, sifatnya lebih spontan dan bisa berubah. Misalnya ada yang mengaku memiliki passion di bidang masak, dia akan senang mengulik resep baru, rela mengocek kantong lebih dalam demi belanja perlengkapan dapur yang canggih dan membeli bahan-bahan premium. Atau yang punya passion besar banget di musik, mau dibayar sekadarnya yang penting bisa manggung di satu acara. Atau nggak dibayar sama sekali pun tak masalah. Yang penting hati senang dan tidak merasa tertekan saat menjalaninya! Satu sisi, saya sangat senang melihat orang yang memiliki passion atau gairah yang menggebu-gebu saat melakukan aktivitasnya sepenuh hati. Karena, biasanya ketika orang mengerjakan sesuatu yang senada dengan passionnya, hasilnya akan bagus. 

Belakangan saya merasa, kata passion ini menjadi mantra utama yang terlalu diagung-agungkan dan digadang-gadang oleh coach bisnis atau para pelaku usaha untuk mengajak orang terjun di dunia bisnis. Bingung mau bisnis apa? Lihat passion kamu dan ubah passion itu jadi bisnis. Pasti bisa! Atau… kamu bosan kerja karena nggak sesuai dengan passion kamu? Untuk apa bertahan di kantor lama, kan kamu kamu senang banget main musik, keluar saja dan mulai membangun bisnis musikmu sendiri. Pasti bisa! Nah, bagi saya, ini bahaya, ketika HANYA mengandalkan passion untuk membangun bisnis. Jangan lupa, bisnis itu perlu kapital dan harus memberikan keuntungan. Jika tidak menguntungkan, ya aktif di bidang sosial atau buka yayasan saja, jangan berbisnis. Tidak sedikit saya melihat orang yang bisnisnya gagal karena hanya mengandalkan passionnya.

Seorang teman dengan percaya diri keluar dari pekerjaannya karena ingin mewujudkan passion-nya di bidang kuliner. Hasil masakannya memang enak dan sesekali dia menerima pesanan. Dia lantas merenovasi dapur, membeli peralatan masak baru, dan menggaji asisten baru. Awalnya, dia sempat kebanjiran order karena teman-teman banyak yang memesan. Tetapi, hanya berlangsung selama 2-3 bulan, setelah itu pesanan menurun. Saya tidak tahu persis bagaimana dia mengelola bisnisnya, dugaan saya, bisa jadi karena ia tidak memiliki perencanaan bisnis yang matang, atau keuangannya tidak lancar, tak sampai setahun, bisnisnya harus gulung tikar. Yang membuat saya sedih, passion memasaknya yang dulu membuatnya cemerlang, malah menyumbang tekanan pada dirinya.

Punya passion besar tidak pernah salah. Itulah yang membuat hidup kita bergairah dan gembira saat melakukannya. Tetapi ketika akan mengubahnya sebagai suatu bisnis, ini hanya merupakan salah satu bagian dari sekian banyak hal yang harus kita kuasai. Mulailah dengan, apa yang ingin Anda capai dari passion ini? Hanya sebatas hobi atau dijadikan mata pencaharian? Jika pilihannya adalah yang kedua, maka Anda harus mau mempelajari soal membuka pasar, promosi, branding, hingga mengatur cash flow agar bisnis berbasis passion ini akan lestari. 

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×