CEO TALKS: MEMBANGUN CITRA MINUS FLEXING

  • date March 18 2022

Sejak adanya media sosial, secara tidak langsung kita diajak berlomba-lomba untuk memberi tahu kepada dunia seluruh kegiatan kita. Bangun pagi, buka mata, langsung post pemandangan dari tempat tidur. Mau ngantor? Post dulu dong pilihan outfit hari ini. Sarapan, sebelum doa makan, ya foto dulu dan post di medsos. Selama perjalanan ke kantor, bikin video pendek yang menggambarkan kemacetan yang ditempuh. Sampai kantor, post lagi meja kerja yang penuh dengan pernak-pernik menggemaskan. Selama ada hal menarik yang dirasa perlu untuk dibagi, post akan terus menghiasi laman media sosial.

 

Tak dipungkiri, media sosial merupakan platform efektif untuk mempromosikan bisnis dan membangun pencitraan, tanpa menguras kantong. Dan ini berlaku untuk semua orang, mau Anda seorang public figure, direktur, manajer, atau pengusaha – skala besar dan kecil, hingga artis dan politikus, tanpa kecuali, bisa menggunakan media ini. Ambil foto, buat caption yang tepat, entah itu memotivasi atau memprovokasi, maka pengikut Anda akan menyukai atau sebaliknya. Sekarang tinggal pandai-pandai saja melihat, apa yang disukai dan tampilkan apa yang ingin dilihat itu di media sosial.

 

Kalau saya perhatikan, masyarakat sekarang menyenangi pertunjukan kemewahan; senang disajikan mimpi indah yang berisi hidup bergelimang harta. Influencer menangkap keinginan ini, dan membangun profil idaman dengan menyajikan konten pameran barang mewah mereka miliki, mulai dari tas bermerek, mobil, rumah, tempat liburan, dan sebagainya. Perlahan tapi pasti, from zero to hero, gelar crazy rich disematkan ke banyak pribadi, seiring seringnya mereka meng-update gaya hidup mewah mereka, menggaet banyak sekali pengikut setia (dan mungkin juga pemuja). Saat berada di puncak, belakangan diketahui, beberapa crazy rich yang banyak dipuja ternyata tak lebih dari penipu kelas kakap. Citra yang telah dibangun dalam beberapa tahun belakangan buyar dalam hitungan hari. Pujian beralih jadi cacian. Satu per satu kekayaan mereka disita, dan kehidupan pribadi sang crazy rich di masa lalu dibahas tuntas. Tadinya dipuja, jadi dicela.

 

Bagi saya, membangun citra positif dan dapat dipercaya, merupakan keharusan karena akan berpengaruh pada bisnis yang saya jalani. Pertanyaannya adalah, ketika begitu banyak orang yang menciptakan citra mereka di media sosial dengan flexing, perlukah kita melakukan hal yang sama? Citra meliputi banyak aspek, tak hanya soal apa yang kita pakai sehari-hari. Value, etos kerja, prestasi, adalah beberapa yang mestinya kita hadirkan saat akan membangun sebuah citra. Medianya pun tak perlu mengekor yang lain. Ciptakan media sendiri yang menampilkan kedalaman dan cerita yang utuh mengenai diri kita dalam bentuk buku misalnya. Mereka yang membaca pun akan mendapat gambaran utuh mengenai perjuangan dan tantangan yang kita hadapi, bukan hasil petikan wawancara sana-sini.

Sudah saatnya membangun citra dengan cara yang baik, benar, dan profesional. Siapkah Anda? 

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×