CEO TALKS: Membangun Budaya Baru Melalui Buku

  • date August 16 2022

Awal Agustus lalu, saya melihat Instagram post dari Menteri Keuangan RI, Ibu Sri Mulyani, mengenai budaya baru yang dibangun di Kementerian Keuangan yaitu merekam pengalaman yang ditempuh oleh Kemenkeu selama masa pandemi dan diterbitkan dalam bentuk buku. Rencananya, buku Keeping Indonesia Safe from the Covid-19 Pandemic akan terbit dalam waktu dekat. Ibu Sri Mulyani memberikan gambaran umum mengenai isinya, seperti bagaimana kebijakan luar biasa harus dibuat dan dievaluasi secara cermat untuk menyelamatkan manusia dan ekonomi, juga pelajaran yang didapat selama menjalankan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi. Mencatat pengalaman dengan cermat dan terstruktur, mungkin bagi sebagian orang hanyalah buang-buang waktu. Padahal, melalui catatan yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku, sangat berpotensi sebagai media belajar bagi generasi berikutnya untuk mengetahui bagaimana para pendahulunya bertahan, mengambil keputusan, bahkan melakukan inovasi di masa-masa sulit dan tidak.

 

Budaya baru yang dibangun di Kemenkeu sebenarnya bukanlah yang baru-baru amat. Perusahaan atau institusi yang menyadari pentingnya pengalaman masa lalu sebagai bahan pembelajaran untuk pengambilan keputusan di masa mendatang, biasanya memiliki sistem kearsipan yang rapi, tidak hanya berupa kumpulan notulen, tetapi juga analisisnya. Sayangnya, arsip hanya terhenti di lemari atau gudang, tidak ada yang menyusunnya menjadi satu bacaan yang menyeluruh dan dapat dipahami oleh seluruh karyawan, terutama para pemangku jabatan dan keputusan.  Pernah, saat Kanakata dipercaya untuk membuat buku sejenis ini, tim humas mengatakan bahwa bahan-bahan yang dibutuhkan ada, tapi karena hanya disimpan di gudang dan tidak jelas di mana keberadaannya, diputuskan untuk membongkar koleksi yang lebih baru dan sudah dalam bentuk digital. Jadilah saya dan tim harus lebih cermat untuk mengambil mana saja yang bisa dimasukkan sebagai isi buku, mana yang ‘terpaksa’ ditiadakan, kemudian menyusunnya agar menjadi sebuah laporan atau kisah yang lengkap dan bermakna bagi para pembacanya.

 

Kendala lain yang kerap muncul adalah semua bahan yang dibutuhkan ada, tetapi tidak ada orang yang bisa menyusunnya karena masing-masing karyawan memiliki tugas dan tanggung jawab mereka sehari-hari. Jika ditambah dengan tugas menyusun buku, bisa-bisa pekerjaan rutin mereka terbengkalai. Namun hal ini sebenarnya tak perlu terjadi jika perusahaan menemukan jasa yang bisa mengakomodir kebutuhan ini. Pilih perusahaan yang menawarkan jasa mulai dari pengumpulan materi, wawancara, penulisan hingga editing dan desain, sehingga buku perusahaan tetap terbit, tanpa mengganggu aktivitas harian karyawan. Pastikan tim yang terlibat memiliki pengalaman belasan tahun agar mampu menangkap fokus masalah yang akan disampaikan, berikut penjabaran tantangan dan solusinya secara terstruktur dan mudah dipahami.

 

Sudah saatnya setiap perusahaan tak hanya memiliki kronik (catatan peristiwa berdasarkan urutan waktu kejadian), tetapi juga buku yang mencakup keseluruhan proses pembelajaran dan inovasi yang dilalui oleh perusahaan. Jadikan buku perusahaan tak hanya sebagai rekam jejak, tetapi juga bekal para penerus agar perusahaan tak hanya mampu bertahan, tetapi menjadi terdepan di tengah beragam tantangan yang ada.

 

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×