CEO TALKS: Berani Bangkit di Saat Jatuh

  • date January 11 2022

Sudah berlangsung dua tahun, pandemi masih terus menyumbangkan cerita tidak menyenangkan, termasuk dari pelaku wirausaha. Beberapa minggu lalu, saya bertemu dengan pemilik usaha katering yang akhirnya terpaksa memilih menidurkan dulu bisnisnya hingga waktu yang tidak ditentukan. Usai lulus dari sekolah kuliner di Jerman, dia kembali ke Indonesia untuk memulai bisnis katering. Usaha yang dia mulai dari garasi rumahnya, makin berkembang sehingga lebih dari separuh rumahnya dijadikan tempat produksi – bahkan menyewa rumah sebelah untuk mendukung bisnisnya. Perjalanan yang ia mulai sejak enam tahun lalu, sudah berbuah di tahun kedua, dan ketika sedang berada di puncak, pandemi menghantam tanpa ampun. Semua event alias acara seperti pesta pernikahan, company gathering, dan ulang tahun, berhenti. Imbasnya, pesanan katering yang menjadi sumber utama bisnisnya mandek total. “Di awal pandemi, saya masih optimis kalau ini hanya berlangsung 1-2 minggu. Ternyata kondisi makin gawat, saya semakin tidak bisa bergerak, sementara karyawan tetap perlu digaji, sementara pendapatan tidak ada yang masuk. Beneran sakit kepala!” katanya sambil tersenyum pahit.

Ia melanjutkan ceritanya. Mulai dari mencoba bertahan dengan berjualan makanan secara online, tetapi ia mengaku omsetnya tidak cukup untuk menghidupi bisnisnya. Berat hati, ia mulai mengurangi karyawannya, hingga akhirnya menyisakan satu orang saja. Satu tahun berlalu, ketika kondisi keuangan perusahaan sudah benar-benar di ambang batas minus, ia memilih untuk menyudahinya sementara dan memutuskan untuk mencari kerja. “Pedih juga sih, harus mengesampingkan dulu impian dan passion saya di dunia kuliner, tapi saya juga harus sadar, ada biaya hidup yang harus saya penuhi. Walaupun berat, saya mencoba membuka diri untuk mempelajari hal baru yang beda banget dengan dunia saya sebelumnya, dan perlahan-lahan saya bisa bangkit. Keuangan pelan-pelan membaik, pandemi juga mulai mereda, tapi terus terang, untuk kembali sepenuhnya di bisnis kuliner, saya belum cukup percaya diri. Saya merasa, hal baru yang saya pelajari ini lebih menjanjikan dan… saya belum mau memasang target dulu,” tambahnya lagi.

Perlu kita akui, perjalanan pelaku wirausaha tidak selamanya berjalan lurus dan mulus. Kegagalan, tantangan, dan kejadian tak terduga akan selalu menghantui perjalanan kita. Yang bisa membedakan, menurut saya, adalah mental kita saat menghadapi semua itu. Saya sempat menyayangkan keputusannya untuk menidurkan sementara bisnis kulinernya, yang saya tahu betul dia sangat menikmati seluruh prosesnya. Tetapi di sisi lain, saya sangat memahami bahwa ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Jalan yang ia lalui berbelok ke arah yang berbeda, tetapi mungkin akan membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Saya mengagumi kemampuannya segera bangkit, bersikap terbuka, dan fleksibel untuk mempelajari hal baru, tanpa berlama-lama terjebak pada keberhasilan sebelumnya. Bermodal mental ini, saya yakin dia akan kembali dengan lebih kuat, apa pun yang akan menjadi pilihan bisnisnya berikutnya. Anda punya pengalaman yang sama? Bagaimana cara Anda melaluinya? 

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative   

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×