CEO TALK: Beda Visi, Pertahankan atau Lepas?

  • date May 24 2021

Seorang teman, yang juga seorang pebisnis, mengeluh kepada saya. Karyawan sudah diberikan KPI, lengkap dengan reward jika berhasil memenuhinya, tetap saja bekerja malas-malasan. Bahkan, mulai terdengar kasak-kusuk di kalangan karyawan, bahwa tak perlulah menunjukkan bisa segalanya, karena nantinya bakal ‘dikerjain’ oleh perusahaan alias diberi tugas-tugas yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

 

Saya tertawa mendengar kasak-kusuk itu. Ya, sebagai mantan karyawan selama belasan tahun, saya tentu pernah berada di posisi yang sama; enggan memberikan seluruh potensi yang saya miliki, karena ujungnya pasti diberi tugas tambahan, tanpa bonus rupiah – apalagi dolar. Saya bisa memahami ketidakinginan mereka untuk berbuat lebih, sekaligus menyayangkan sikap tersebut. Ketika saya mendapat tugas-tugas ekstra, yang terkadang tidak ada dalam job-desc bahkan di luar dari kapasitas saya sebagai penulis, awalnya tentu sembari mengomel tetapi merasa tak ada pilihan, tetap saya kerjakan. Terseok-seok, sambil terus diawasi oleh Mbak Bos, secara tidak langsung membuat saya makin tertekan saat bekerja. Belum lagi tiba-tiba dipanggil direktur untuk mempresentasikan progress-nya, sementara Mbak Bos hanya duduk di sebelah saya dan mendengarkan, seolah-olah lepas tangan. Tetapi saya menyadari, sebenarnya atasan tidak benar-benar lepas tangan kok – cuma karena sedang kesal saja, saya jadi merasa sendiri. Kala sedang ‘mentok’, atasan dengan sigap memberi arahan. Setelah kondisi mulai stabil, saya kembali ‘dilepas’. Cara-cara seperti ini membuat saya semakin matang dalam bekerja dan mengambil keputusan, dan tentu saja menambah keahlian baru.

 

Proses belajar ini sepertinya tidak disadari oleh karyawan yang selalu menghitung segalanya berdasarkan angka gaji. Bahwa dengan diberi tantangan atau tugas baru, kita sebenarnya diberi kesempatan untuk maju, tidak lagi berkubang di hal yang itu-itu saja. Manfaatnya tidak bisa dirasakan dalam waktu seminggu-dua minggu, bisa jadi setelah beberapa tahun kemudian. Saat ini, sebagai pemilik perusahaan, tentu saja saya (dan teman saya tadi) menginginkan karyawan yang bisa membantu membangun bisnis ini bersama. Yang memiliki semangat yang sama untuk maju, bisa bekerja sama untuk mencapai target yang dituju, sehingga bisnis bisa terus berjalan. Baik pemilik dan karyawan hendaknya sama-sama menyadari, tanpa dukungan satu sama lain, perusahaan terancam mandek, jalan di tempat. Jika kadung tidak terjadi sinergi yang baik di keduanya, tidak hanya pemilik perusahaan yang rugi, tetapi karyawan pun akan kehilangan penghasilan.  

 

Teringat kembali apa yang dikatakan teman saya tadi, “Karyawan yang nggak sejalan tadi, apa dilepas saja ya? Daripada mengganggu dinamika di kantor!” Hm… sayangnya saya tidak bisa begitu saja mengiyakan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melepas aset yang ada. Tetapi, jika akhirnya keberadaan karyawan yang dinilai tidak bisa ikut berlari dalam tim tersebut hanya akan menghambat laju perusahaan, saya pikir, sebaiknya dia berkarier di tempat lain saja. Walaupun kedengarannya kasar, kenyataannya tanpa kualitas dan kinerja yang baik, posisi seseorang bisa dengan mudah digantikan dengan yang lain. Menurut Anda?

Rully Larasati, CEO Kanakata Creative

   

 

 

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×