Brandstory: Berbeda Karena “Cerita”

  • date January 04 2021

Saat ini, pelanggan tidak sekadar membeli—mereka akan membeli apa yang membuat mereka merasa “terhubung” dengan mereka yang mereka beli.

Manusia pada dasarnya gemar akan cerita Dari lukisan gua dan tradisi lisan hingga mesin cetak, radio, televisi, dan internet, sejarah kita sebagai spesies bertumpu pada evolusi cara kita menceritakan kisah kita, dan cara kita berkomunikasi. Tidak heran,  mengapa cerita adalah bagian penting dari pemasaran dan identitas merek kita.

Hal yang terpenting: cerita tentang brand kita harus berangkat dari sesuatu yang ada dan nyata. Bukan mengarang bebas atau berangkat dari ruang kosong—karena dari pelanggan, calon investor atau siapapun yang akan bekerja sama dengan kita akan menemukan “celah” dan menemukan apakah yang kita sampaikan benar atau tidak. Cerita yang kita tawarkan harus merefleksikan apa yang benar tentang bagaimana bisnis dimulai, cara perusahaan bekerja, kepribadian atau kisah dari para pendiri perusahaan tersebut.

Pada malam bulan Desember yang bersalju di Paris, 2008, Travis Kalanick dan Garrett Camp berdiri menggigil saat mereka menunggu taksi. Tidak ada yang datang dan mereka setengah bergurau berkata, “Enaknya kalau bisa memesan limusin pribadi melalui aplikasi!” Setelah malam itu, Camp dan Kalanick berpisah, tetapi gagasan itu melekat pada mereka berdua. Pada bulan Maret tahun berikutnya, dua pendiri telah mengembangkan aplikasi dan melanjutkan untuk mengujinya di New York pada tahun 2010 hanya dengan menggunakan tiga mobil. Mereka kembali ke Paris pada Desember 2012, dan meluncurkan Uber.

Mengapa “menceritakan” kisah seperti ini penting?

Pertama, cerita menarik perhatian. Sebagian besar orang senang mendengar kisah tentang bagaimana suatu produk dibangun sampai menjadi besar. Apa yang membuat produk ini lahir? Bagaimana bisa bertahan? Nilai-nilai apa yang disebarkan?

Kedua, cerita tidak hanya membangun minat pada merek kita, namun cerita yang baik akan membuat para pemerhati merek kita dapat menyebarkan berita tentang bisnis kita sekalipun mereka belum membeli apa pun.

Ketiga, cerita yang kita miliki membedakan kita dengan kompetitor yang menawarkan produk atau jasa sejenis. Semisal, dari beberapa produk yang mengeluarkan produk fesyen terkini, komitmen kita untuk memilih bahan baku yang ramah lingkungan, atau memberi upah yang adil kepada para pekerja tentu adalah cerita yang ingin didengar oleh para pemakai produk kita. Kemampuan mengolah cerita merek, membuat bisnis kita terlihat unik, memiliki nilai lebih dan membuat orang ingin membeli atau menjadi bagian darinya.

Bagaimana dengan kisah merek Anda? (Kanakata Creative)

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×