Bisnis Bersama Sahabat

  • date August 10 2020

Pandemi banyak melahirkan inisiatif baru, memulai bisnis bersama sahabat misalnya. Sama-sama suka tanaman, sama-sama suka fesyen, sama-sama jagoan di bidang komunikasi—atau sama-sama suka memasak—lantas tercetuslah ide untuk menjadikannya bisnis yang serius. Klop di pertemanan, pasti langgeng dalam hal bisnis? Belum tentu. Steve Jobs dan Steve Wozniak atau Lena Dunham dan Jenni Konner adalah contoh untuk tidak pernah berbisnis dengan seorang teman bila taruhannya adalah persahabatan.

Memang, sukar rasanya untuk membayangkan bagaimana memulai perusahaan dengan seseorang yang tidak mengenal kita sebagaimana kita mengenal satu sama lain. Sahabat—yang telah lama mengetahui sepak terjang kita—tetaplah kandidat yang sempurna. Pastikan kita telah melewati tahap-tahap ini!

1.  Evaluasi kapasitas diri

Apakah ada sifat-sifat dalam diri sahabat yang dapat kita andalkan sebagai mitra bisnis? Bagaimana sifat keras kepala, perfeksionis kita atau sifat ragu-ragu dan pemalu sahabat dapat disatukan dalam konteks bisnis bersama? Apakah kita bisa membayangkan hidup profesional kita memiliki mitra dengan sifat-sifat yang tidak kita sukai, yang terlalu mirip—atau justru sangat bertolak belakang dengan sifat kita? Tentu saja, kita tak harus selalu sama, namun kita harus bisa bekerjasama.

2.  Merasakan Kepemilikan Bersama

Sejak awal, pastikan apa yang menjadi tugas dan  tanggungjawab masing-masing. Memiliki kejelasan tentang hal ini akan membuat kita tidak saling menginjak-injak, merasa tertinggal, akan tetapi justru memiliki otoritas yang sama. Membagi tanggung jawab tidak berarti bahwa pihak lain tidak bisa dan tidak boleh mempertimbangkan hal-hal yang di luar tanggungjawabnya—terutama untuk misi, visi dan strategi perusahaan.

3.  Kekuatan Bernama “Kami”

Kunci untuk membangun kemitraan yang kuat adalah mengesampingkan ego. Ingat bahwa kita dan sahabat melakukan ini bersama, bertanggungjawab bersama, dalam deadline, tekanan, keuntungan, bahkan—semoga tidak terjadi—kegagalan.

4.  Keterbukaan
Kita harus bersedia berbagi perasaan, ketakutan, dan masalah dengan satu sama lain. Mengekspresikan bahwa kita merasa tidak aman tentang peran kita dalam sebuah proyek atau bahwa ketika keuangan pribadi dalam keadaan genting dan memicu kecemasan. Dalam buku Work Wife: The Power of Female Friendship to Drive Successful Businesses, duo sahabat Cerulo dan Mazur menekankan pentingnya untuk memiliki rutinitas mengecek kondisi emosional masing-masing. “Bagaimana perasaan kamu tentang hal ini?" atau “Ada hal yang bikin kamu nggak happy dengan proyek ini?” Dengan selalu mengecek perasaan satu sama lain, termasuk ketakutan, kekhawatiran atau ketidakpuasan, kita dan sahabat dapat saling menguatkan sampai memikirkan solusi bersama. Persahabatan yang saling mendukung  adalah ikatan yang  dapat menguntungan kita dan sahabat dalam melajukan perahu perusahaan di lautan persaingan bisnis di luar sana bukan? (Kanakata Creative)

Foto: Business photo created by nensuria - www.freepik.com

Send Message

location

GED 88, Tower A Level 38, Kota Kasablanca Jl. Casablanca Raya, Kav. 88, Jakarta 12870

email

marketing@kanakata.co

×